Kumpulan Pantun Antikorupsi Karya Siswa Ikut Festival Antikorupsi

Diposting pada: 2015-03-30, oleh : Ida Bagus Darmatika, Kategori: Kegiatan Siswa

MAKASSAR - Korupsi ternyata dapat dilawan dengan berbagai cara kreatif, siswa SMP YPS Singkole kelas 7 misalnya, melalui pantun, mereka mengekspresikan semangat antikorupsinya. Karya kreatif ini pun turut ambil bagian dalam Festival Antikorupsi yang berlangsung di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (28/3).

Dalam event nasional ini, sekitar 300-an pantun dipamerkan pade enam lembar kertas karton manila putih. Tampilannya pun unik, penuh warna, serta judul yang mencolok dengan model tulisan "doodle" karya siswa.

Abdul Muthalib, Ketua Badan Pekerja Anti Corruption Committe (ACC) Sulsel, salah satu pengunjung pameran, mengaku bangga dengan kreatifitas siswa. "Saya tidak menyangka ada karya anak-anak dari sekolah yang jauh dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini," katanya.

Dipajang tepat di dekat tempat penandatanganan dukungan untuk KPK, pantun karya siswa ini pun menjadi perhatian, beberapa pengunjung menjadikannya latar belakang untuk berfoto.

Dr. Usman, misalnya, pria yang berprofesi sebagai dosen pascasarjana UNM ini beberapa kali mengambil gambar setelah memilah pantun yang menurutnya unik. Bahkan, menurutnya kumpulan pantun tersebut bisa dijadikan sebagai objek penelitian.

Menurut Fadli Herman, pantun sebagai karya sastra klasik juga ternyata efektif dijadikan sebagai instrumen untuk melawan korupsi. "Ketika anak menuliskan pantunnya, secara tak langsung hal ini pun menumbuhkan jiwa antikorupsi dalam dirinya," ungkapnya. Hal ini, tambah Fadli, sejalan dengan semangat pendidikan antikorupsi dalam dunia pendidikan.

Keikutsertaan karya siswa SMP YPS Singkole dalam Festival Antikorupsi ini berkaitan dengan pembelajaran apresiasi karya sastra klasik bentuk pantun sebagai materi awal pasca ulangan tengah semester genap.

Adapun Festifal Antikorupsi dilaksakan oleh Masyarakat Antikorupsi (MARS) Sulsel yang di dalamnya tergabung beberapa LSM Antikorupsi, organisasi kemahasiswaan, serikat pekerja, dan pekerja seni se-Makassar.

Kegiatan dimeriahkan oleh Robi Navicula pelantun lagu "Mafia Hukum", Band Simphony yang meraih juara pada Konferensi Internasional Antikorupsi pada 2012 di Brasil, dan UKM Seni UMI.

Kegiatan inti dalam festival ini berupa pembacaan puisi "Mungkinkah Darah Berpisah Dengan Daging" oleh Abraham Samad yang dilanjutkan dengan pembacaan Petisi Pemberantasan Korupsi oleh MARS Sulsel. Kegiatan yang berlangsung sejak sore hingga pukul 23.00 Wita ini dihadiri oleh pegiat antikorupsi, akademisi, mahasiswa, dan unsur masyarakat sipil lainnya.

By: Integrity

 

 

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.ruumit.com
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Himbauan Informasi